USKUP LABUAN BAJO
KRISTUS YANG BANGKIT MENDAHULUI KITA KE GALILEA:
Bangkit, Berjalan Bersama, dan Bersaksi (Mat. 28:7)
Para Imam, Biarawan, Biarawati, umat beriman terkasih,
Pada pagi Paskah, para perempuan datang ke makam Yesus. Mereka menerima pesan mengejutkan: "Ia tidak ada di sini; Ia telah bangkit... Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia" (Mat 28:7).
Kristus yang bangkit tidak menunggu para murid datang kepada-Nya. Dia berjalan mendahului mereka ke Galilea. Dia membuka jalan bagi mereka. Dia menyiapkan ruang perjumpaan baru. Gagasan ini hendak menunjuk pada dinamika rahmat Allah. Allah selalu mengambil inisiatif lebih dahulu. Tradisi teologi menyebutnya gratia praeveniens-rahmat yang mendahului tanggapan manusia (Katekismus Gereja Katolik, 2001). Kristus yang bangkit berada di depan perjalanan umat-Nya. Dia hadir bahkan ketika manusia masih diliputi keraguan dan ketakutan (bdk. Yoh. 21:1-14).
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus yang Bangkit
Bagi para murid, Galilea bukan sekadar nama tempat. Di Galilea, Yesus pertama kali memanggil mereka. Galilea adalah ruang kehidupan sehari-hari. Di sana mereka bekerja, berjuang, dan membangun relasi. Ke Galilea, Dia mengundang mereka kembali setelah kebangkitan-Nya. Iman kristiani selalu kembali ke kehidupan nyata, suka cita dan harapan manusia (Gaudium et Spes, 1). Karena itu, Galilea Paskah adalah gerak sekaligus gambaran simbolik beragam ranah kehidupan.
Pertama, Galilea sebagai simbol kehidupan pribadi. Setiap orang memiliki "Galilea" dalam dirinya. Ruang batin tempat iman diuji oleh kegagalan, luka, dan keraguan. Justru di ruang itu Kristus yang bangkit menghadirkan pembaruan. Paskah mengajak setiap pribadi berani memulai kembali. Iman selalu membuka kemungkinan baru bagi manusia (bdk. Evangelii Gaudium, 3). Paskah adalah keberanian bangkit dari keputusasaan menuju harapan.
Kedua, Galilea keluarga. Keluarga adalah tempat pertama Injil dihidupi dan diwariskan. Di tengah berbagai bentuk tekanan (sosial-ekonomi), keluarga dipanggil menjadi ruang kebangkitan. Keluarga mesti merawat kasih, kesetiaan, dan pengampunan. Keluarga menjadi saksi pertama harapan Paskah. Paus Fransiskus menyebut keluarga sebagai “gereja domestik" (unit dasar Gereja) yang memancarkan kegembiraan Injil (Amoris Laetitia, 67).
Ketiga, Galilea komunitas Gereja. Komunitas Gereja pada berbagai tingkatan adalah Galilea tempat umat Allah berjalan bersama. Gereja adalah persekutuan yang hidup. Umat saling mendengarkan, saling menguatkan, dan saling melayani. Ketika umat berjalan bersama, Gereja menjadi tanda nyata kehadiran Kristus yang bangkit di tengah dunia. Dalam terang itu, kitamenziarahi fokus pastoral "persekutuan sinergis" sepanjang Tahun 2026. Tema ini mengingatkan bahwa Gereja hidup bukan oleh kerja sendiri-sendiri, tetapi oleh kebersamaan yang saling melengkapi. Saya menangkap gerak kebersamaan ini dalam sedikit kunjungan pastoral ke sejumlah stasi selama Prapaskah ini.
Keempat, Galilea masyarakat. Iman Paskah tidak berhenti di dalam Gereja. Kebangkitan Kristus mengutus kita ke tengah kehidupan sosial. Kejujuran, tanggung jawab, solidaritas, dan keadilan adalah wujud kesaksian iman. Murid Kristus dipanggil menjadi garam dan terang dunia (Mat. 5:13–16). Iman yang bangkit harus tampak dalam kehidupan bersama.
Kelima, Galilea ekologis. Bagi kita di Keuskupan Labuan Bajo, Galilea memiliki wajah konkret: tanah, laut, hutan, dan kehidupan masyarakat yang menjadi rumah bersama. Labuan Bajo dikenal sebagai destinasi pariwisata yang memikat. Keindahan ini adalah anugerah. Sekaligus tanggung jawab besar demi generasi masa depan. Pariwisata boleh berkembang, tetapi ciptaan tidak boleh rusak. Kita dipanggil merawat Galilea ekologis Labuan Bajo. Gereja mendukung dan menghargai komitmen banyak pihak-seperti pegiat lingkungan, lembaga swadaya masyarakat, media-yang secara konsisten menyuarakan secara kritis berbagai kemungkinan salah arah pengolalaan pariwisata dan lingkungan. Sebuah awasan profetik bahwa kehidupan lebih berharga daripada keuntungan sesaat. Kita harus melindungi segenap kawasan utama penyangga masa depan kehidupan. Alam adalah ciptaan yang dipercayakan kepada manusia untuk dirawat. Paus Fransiskus menegaskan bahwa bumi adalah rumah bersama yang harus dijaga demi generasi mendatang (Laudato Si', 1).
Saudari-saudara terkasih dalam Kristus yang Bangkit,
Kristus yang bangkit mendahului kita ke Galilea. Dia berada di depan perjalanan hidup kita: dalam hati, keluarga, Gereja, masyarakat, dan alam ciptaan. Paskah mengundang kita untuk bangkit bersama Dia-bangkit dalam iman, berjalan bersama dalam harapan, dan bersaksi dalam kasih. Dalam semangat Persekutuan Sinergis, kita dipangggil merawat Galilea kehidupan kita.
Saya mengucap terima kasih kepada rekan-rekan imam baik di paroki maupun komunitas, biarawan-biarawati, segenap pelayan pastoral, yang telah mempersiapkan umat menjalani Prapaskah dan merayakan Paskah tahun 2026 ini. Saya juga mendoakan semua umat dalam setiap pergumulan hidup agar tetap memancarkan kesaksian iman dalam mengasihi sesama, menjaga ciptaan-Nya, dan memuliakan Allah.
Selamat Menyongsong Paskah. Kristus Bangkit. Alleluia.
Labuan Bajo, 21 Maret 2026 Saudaramu,
Mgr. Maksimus Regus
Uskup Labuan Bajo
Redaksi|| Stanislus bandut
.png)
