Selamat Datang Diwebsite Paroki St.Simon Petrus Compang Pentahbisan Gereja Baru, Paroki St.Petrus Compang Gelar Acara Adat Tudak We'e

Pentahbisan Gereja Baru, Paroki St.Petrus Compang Gelar Acara Adat Tudak We'e

0

 Foto Prosesi adat Tudak We'e Gereja Baru Paroki St.Petrus Compang, Oleh M.Hamse (Minggu, 02/08/2026)

COMPANG, WARTASSPC.ID- Tradisi adat Tudak We'e mewarnai rangkaian perayaan syukur Pentahbisan Gereja Paroki St. Petrus Compang,  yang acara puncaknya pada 4 Agustus 2026.


Prosesi yang berlangsung khidmat tersebut menjadi simbol kuat harmonisasi antara kehidupan menggereja dan pelestarian budaya lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Manggarai.


Acara yang dihadiri Romo Kevikepan Pacar, para Suster, tokoh adat, tokoh masyarakat, unsur pemerintah dan panitia, berlangsung dalam suasana penuh sukacita dan  persaudaraan, Kehadiran berbagai elemen masyarakat mencerminkan bahwa momentum pentahbisan gereja bukan hanya menjadi perayaan iman umat Katolik, tetapi juga menjadi peristiwa budaya yang mempererat solidaritas sosial.


Tradisi Tudak We'e merupakan salah satu ritual adat masyarakat Manggarai yang memiliki makna mendalam sebagai ungkapan syukur kepada Mori Kraeng  (Sang Pencipta) atas penyertaan, keselamatan, dan berkat yang diterima. Tradisi ini juga menjadi sarana memohon perlindungan serta berkat bagi gereja  baru  agar menjadi pusat pertumbuhan iman dan pelayanan bagi seluruh umat.


Dalam pelaksanaannya, tokoh adat dan para utusan tiap stasi mengambil bagian sesuai dengan peran masing-masing. Nilai gotong royong, kekeluargaan, penghormatan kepada leluhur, serta semangat kebersamaan tampak menyatu dalam setiap tahapan prosesi adat.


Tokoh adat Alosius Madun mengatakan, Tudak We'e merupakan bagian penting dari rangkaian adat yang mengiringi Pentahbisan Gereja Paroki St. Petrus Compang sebagai bentuk syukur sekaligus doa bersama.


"Melalui Tudak We'e, kami mengucapkan syukur kepada Mori Kraeng dan menghormati para leluhur atas penyertaan-Nya hingga pembangunan Gereja Paroki St. Petrus Compang dapat diselesaikan. Kami juga memohon agar gereja ini senantiasa menjadi tempat yang membawa damai, memperkokoh iman umat, berdiri kokoh sepanjang masa, serta seluruh umat selalu dilindungi dan dijauhkan dari segala marabahaya," ujar Alosius.


Menurutnya, pelaksanaan tradisi adat tersebut juga menjadi pengingat bahwa nilai-nilai budaya Manggarai tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Budaya dan iman, katanya, saling memperkaya dalam membangun kehidupan yang harmonis.


Sepanjang prosesi berlangsung, umat menunjukkan antusiasme yang tinggi. Semangat gotong royong yang telah dibangun sejak proses pembangunan gereja hingga pelaksanaan pentahbisan menjadi bukti kuat bahwa keberhasilan pembangunan rumah ibadah merupakan hasil kerja bersama seluruh umat dan masyarakat.


Panitia pelaksana menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan, baik dalam bentuk tenaga, pikiran, doa, maupun materi. Dukungan dari umat, tokoh adat, pemerintah, dan masyarakat dinilai menjadi faktor utama suksesnya seluruh rangkaian acara adat ini.


Momentum tersebut tidak hanya menjadi tonggak sejarah bagi Paroki St. Petrus Compang, tetapi juga memperlihatkan bahwa Gereja Katolik hadir sebagai bagian dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Nilai-nilai adat yang diwariskan leluhur tetap mendapat tempat dan berjalan berdampingan dengan kehidupan menggereja.



Writer|| Stanislaus Bandut|| Red

Tags

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !
To Top