Selamat Datang Diwebsite Paroki St.Simon Petrus Compang Hari Kedua KPPK Di Paroki Compang, Fasilitator Kupas Makna Perkawinan Adat Manggarai

Hari Kedua KPPK Di Paroki Compang, Fasilitator Kupas Makna Perkawinan Adat Manggarai

0

 Foto Fasilitator Bpk.Vitus Taku bersama peserta KPPK saat membawakan Materi Perkawinan Adat Manggarai Sabtu (16/05) oleh M.Hamse

Compang, WARTASSPC.ID-Kursus Persiapan Perkawinan Katolik (KPPK) berlangsung penuh antusias saat fasilitator Vitus Taku membawakan materi tentang perkawinan adat Manggarai, Sabtu, 16 Mei 2026.


Materi tersebut memberikan pemahaman mendalam kepada para peserta mengenai nilai budaya, makna kekeluargaan, serta hubungan antara adat dan ajaran Gereja Katolik dalam kehidupan perkawinan masyarakat Manggarai.


Dalam pemaparannya, Vitus menyampaikan bahwa masyarakat Manggarai mengenal tiga bentuk utama perkawinan adat, yakni Cangkang, Tungku, dan Cako.


 Ketiga bentuk perkawinan tersebut memiliki makna dan tata cara yang berbeda sesuai dengan hubungan kekerabatan serta kesepakatan antar keluarga.


Menurutnya, perkawinan adat Manggarai bukan sekadar penyatuan dua individu, tetapi juga menjadi ikatan persaudaraan antara dua keluarga besar. Karena itu, setiap tahapan adat memiliki nilai penghormatan, tanggung jawab, dan kebersamaan yang dijunjung tinggi oleh masyarakat.


"Setiap bentuk perkawinan adat memiliki nilai dan aturan yang harus dihormati karena di dalamnya ada martabat keluarga,"  tegasnya.


Lebih lanjut, Vitus  menjelaskan hubungan antara Gereja Katolik dan perkawinan adat Manggarai. Ia menegaskan bahwa Gereja menghargai nilai-nilai budaya lokal selama tidak bertentangan dengan ajaran iman Katolik. 


Dalam konteks masyarakat Manggarai, adat dipandang sebagai bagian penting yang membantu pasangan mempersiapkan diri menuju kehidupan rumah tangga yang harmonis.


"Perkawinan adat memiliki nilai persatuan, penghormatan kepada keluarga, dan tanggung jawab sosial. Nilai-nilai ini sejalan dengan ajaran Gereja tentang sakramen perkawinan,"  jelas Vitus.


Melalui materi tersebut, peserta diharapkan semakin memahami pentingnya menjaga tradisi budaya sekaligus menghayati makna sakramen perkawinan secara utuh.



Writer|| Stanislaus Bandut|| Komsos Paroki

Tags

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !
To Top